Jumat, 05 Agustus 2011

Politik, Robi’ah Al-Adawiyah

Setelah saya membaca beberapa artikel yang menceritakan tentang sufi wanita yang terkenal dengan mahabbahnya kepada Allah, saya merasa begitu takjub, malu, dan sekaligus bingung. Mungkin lebih baiknya saya bercerita sedikit mengenai Robi’ah Al Adawiyah.

Robia’ah al Adawiyah adalah anak ke empat dari ismail Al Adawiyah. Robi’ah lahir di Basrah (Irak), di rumah suatu keluarga yang miskin, yakni keluarga Ismail. Robi’ah lahir dalam keadaan gelap gulita. Saat itu, keluarganya tidak punya sedikit minyak pun untuk bisa menyalakan lampu sebagai penerangnya. Lantas sang ibu, meminta suaminya (Ismail) untuk meminta sedikt minyak pada tetangganya. Dalam hati sebenarnya Ismail ingin menolak permintaan itu, tapi ia tidak sampai hati melihat istrinya, maka ia hanya berpura-pura memegang pintu rumah tetangganya berpura-pura meminta, padahal tidak. Karena ismail telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta bantuan apapun kepada manusia lain, mungkin karena kekuatan rasa percayanya pada Allah bahwa hanya Allah lah yang patut di minta pertolongan.

Setelah itu ia hanya bisa duduk di dekat istrinya seraya menundukkan kepala, bersedih dan terlena. Lantas saat ia tertidur ia bermimpi bertemu dengan Rasulallah SAW, dalam mimpinya Rasulullah berkata “Janganlah kamu bersedih wahai hamba Allah yang Shalih, karena anak perempuanmu akan menjadi ratu wanita dan akan menjadi penengah 70.000 orang diantara kaumku”(kurang lebih seperti itu). Lantas Rasulullah juga mengisyaratkan dirinya untuk menulis surat kepada gubernur Basrah, yang intinya, setiap hari raja basrah selalu membaca solawat pada nabi sebanyak 100 kali, dan pada hari jum’at 400 kali, namun jum’at kemarin gubernur lupa untuk tidak membaca sholawat, sehingga Rasulullah memerintahkan untuk mengganti itu denga memberikan uang 400 dinar kepada orang miskin. Setelah gubernur Basrah mebaca surat itu, ia langsung membagikan uang 1000 dinar pada kaum miskin. Betapa pertolongan Allah tidak pernah ada yang menyangka apalagi mengetahuinya.

Dikisahkan bahwa suatu hari saat musim semi tiba, Robia’ah dipanggil pelayannya “Bu keluarlah kemari dan lihatlah keindahan ciptaan Sang Maha Pencipta”. Lantas Robi’ah menjawab : “Lebih baik Kamu saja yang masuk kemari dan lihat Sang Pencipta itu sendiri, aku sedemikian Asyik melihat Sang Pencipta sehingga apa perduliku lagi terhadap ciptannya”. kata-kata yang begitu menkjubkan.

Semula Robi’ah adalah pendakwah yang sangat trampil memainkan seruling. Sehingga ia sering kali mengiringi dakwahnya dengan seruling. Namun, lama-kelamaan timbul dari hatinya bahwa Allah tidak akan datang kepadanya apabila ia seprti ini. Sehingga semenjak itu ia lebih memilih bertafakur, berdzikir kepada Allah disepanjang hidupnya dan tidak lagi mendakwah.

Cinta Robi’ah terhadap Allah begitu membuat takjub semua orang. Banyak dari syair-syair Robiah yang megatakan dia tidak butuh apa-apa lagi di dunia atau di akhirat nanti, karena Allah telah cukup untuknya. Salah stu syairnya saya kutip dari internet adalah sbb :

Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

Betapa cinta Robi’ah adalah cinta yang begitu tulus, cinta tanpa pamrih. Hingga suatu hari ia bertanya pada Hasan Basri “ Apabila tidak pernah ada surga dan neraka masihkah Engkau menyembah Allah?”. Apabila kita di tanya seperti ini apakah jawaban kita. Inilah yang saya katakan saya tersindir dan malu sendiri meresapi pertanyaan ini. Pertanyaan yang memilki makna begitu dalam.

Hingga suatu hari saat Hasan Basri menemui Robi’ah di sungai sedang menjahit bajunya yang sobek, Hasan Basri bertanya pada Robi’ah. “Apa yang telah Engkau peroleh dari apa yang telah Engkau lakukan?” Robi’ah hanya diam dan tidak menjawab, sampai jarumnya tak terasa jatuh ke sungai. Lantas segerombolan ikan mengantarkan jarum itu, di dekat robi’ah. Lantas Robi’ah menjawab inilah yang aku dapatkan.

Tentang masa depan, Sofyn Tsauri (seorang sufi di masa Robi’ah) pernah bertanya kepada Robi’ah, “Robi’ah apakah engkau punya rencana untuk menikah?”. Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.” (dikutip dari Oase Qolbu)

Jawaban-jawaban Robi’ah selalu membuat penanyanya tercengang. Jawaban yang sulit di tebak dan memiliki makna penafsiran yang dalam. Contoh lain saat ada pemuda yang datang kepada Robi’ah dan bertanya “Saya telah melakukan banyak dosa, dosa besar pun juga pernah saya lakukan, andaikata kita bertaubat akankah Allah menerima taubat saya?”. Robi’ah pun langsung menjawab dengan tegas “Tidak”. Dan datanglah pemuda selanjutnya yang juga ingin bertanya pada Robi’ah “Hidupku telah banyak ku isi dengan dosa, dosaku seperti butiran-butiran pasir yang sulit untuk di hitung, tapi saya mau bertaubat dan saya telah melakukan itu, apakah Allah menerima Taubat saya?”, Robi’ah juga menjawab dengan tegas “Pasti”. Lalu Robi’ah menjelaskan, janganlah kau gunakan andai, jika, semisal, atau kata sejenisnya dalam urusan ibadah. Karena kata-kata itu hanya bakan mengurangi keikhlasanmu dalam beribadah kepada Allah. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan seorang hamba seperti Robi’ah Al-Adawiyah, semoga kita bisa terus bertasbih kepada Allah setelah membaca sedikit cerita ini tentang Robi’ah.

Robi’ah selalu bersedih saat malam akan hilang. Dia sibuk terlena pada Allah di kala orang lain terlelap dalam tidurnya. Dia sibuk mengingat Allah saat orang lain terpedaya dengan duniawinya. Akankah ada orang seperti robi’ah di era seperti ini? Sebelum pertanyaan ini terjawab saya ingin bertanya apa yang kita rasakan setelah membaca hal ini? Silahkan merenung sejenak dan meresapi jalan fikiran robi’ah aladawiyah.

Setelah membaca sedikit kisah Robi’ah Al-adawiyah saya menjadi bingung. Manakah sebenarnya yang baik, yang seharusnya kita pilih dalam kehidupan kita. Berjuang dan terus berdakwah menyebarkan islam, membantu memperjuangkan hak-hak orang yang ada di sekitar kita yang masih tertindas atau berkonsentrasi beribadah kepada Allah, belajar mencintai Allah seperti cinta Robi’ah ? tolong kasih komentarnya.

Namun apabila kita analisis lebih dalam, apa yang di lakukan robi’ah Aladawiyah sebenarnya bisa di aplikasikan dalam mengatasi keruhnya politik di Indonesia ini. Dala politik teman bisa menjadi lawan dan sebaliknya lawan juga bisa menjadi teman. Tergantung kebutuhan. Apabila mempunyai kebutuhan yang sama dan dirasa saling menguntungkan maka bisa menjadi teman. Dan apabila sudah tidak sejalan lagi pemikiran-pemikirannya atau sudah tidak saling membutuhkan maka dalam sekejap mereka bisa menjadi lawan. Itulah politik semuanya diukur dengan materi dan keuntungan yang akan di peroleh. Sehingga yang ada membangun negara Indonesia tidak murni dari katulusan hati, atau rasa cintanya pada Indonesi, tapi ada unsur lain di dalamnya. Saya pikir andaikan teori cinta (mahabbah) Robi’ah di aplikasikan dalam dunia perpolitikan, maka politik di Indonesia kayaknya tidak akan sekeruh ini.

Setelah membaca ini tolong di kasih masukan atas pertanyaan saya di atas...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar